My Journey Through Life..

~Some people believe we only live once, so have fun while doing it.~


Leave a comment

Real Traditional Meal : Ingkung Joglo

Honestly, I know about this food for the first time (same food, different places) recently, about 1 year ago, even though I live in Yogyakarta for almost 20 years. That was the first time I ate Ingkung.

Last weekend, along with my parents, I went to a remote area to look for an Ingkung restaurant in Bantul, southern part of Yogyakarta province. I didn’t know that the area is so remote, that it took almost 45 minutes to reach from where I live (which is in the city outskirt). I didn’t even know the area address there, my father just took the wheel there.

So, long story short, we arrived in a very traditional-looking restaurant. The ambiance felt so traditional with village-y nuance. I thought that the restaurant would be packed and jammed. But, no. When we arrived, there’re no customers. Probably because it’s way before lunch time. By the way, the place is called Ingkung Joglo (P.S. : You’re most likely gonna miss this place when you’re trying to find the place, so make proper planning and get clear directions, I’m sorry I can’t provide much on this since I’m clueless as well about how to get there).

Here is the picture of the lovely restaurant, so simple and traditional yet so calming, reminds me of my time living in the village during college assignment :

This slideshow requires JavaScript.

Not so long after we ordered our food, another family came for lunch. Then another family. And then another. Suddenly the restaurant is getting packed with customers having lunch.

The owners didn’t have plenty of menu, just main dish, the ingkung, and several side dish like omelette, sunny side up eggs, tempeh and tofu, and a few more. For the main dish, you can choose what portion the ingkung you want, for 2-3 people, or for about 10 people, all prices may vary due to size. By the way, ingkung is the way it’s cooked, the style, not the main ingredients. It’s basically made of chicken (most likely ‘ayam kampung’ which is a local special breed of chicken that has chewy meat and smaller in size. Ingkung itself has base of coconut milk, resulting in a unique final taste. It has a combination of (a little bit of) saltiness and mostly savory.

Here is the snap picture, I only took 1 though 😦

ingkung

Ingkung (2-3 people portion)

Basically, the chicken is marinated with the coconut milk and spices then steamed. The chicken itself isn’t raw, just boiled for a while before being marinated, thus resulting in that yellowish-white color. The bowl on the right is some kind of soup, mixed with crispy shallot. It’s not thick, quite oily, and has strong coconut milk flavor. It’s the complementary soup for the chicken, you can either pour it to the chicken or take little by little to your rice. The chili paste isn’t that spicy (even for me), and tasted sweet than spicy. The chili paste is based on tomato, actually.

And for the drink :

es-tape

Es Tape

Being pronounced ‘tape’ not ‘tāp’, the green thing is fermented sticky rice so it contains very small amount of alcohol. It’s very popular in Indonesia, especially in Java (or some places I’ve visited before). The fermented rice is mixed with water and sugar to make it sweet.

Talking about rice, the owners here give you 2 choices of rice, plain white rice and  coconut-milk-based rice (shortened : coconut rice, to make it easy). The coconut rice is actually white rice but steamed / cooked with mixture of coconut milk, making it to have distinct flavor. This kind of rice is also popular in many areas in Indonesia.

I also snapped a picture during my way to reach the place : Such a lovely and amazing scenery.

scenery

If any of you planning to visit Indonesia, specially Yogyakarta, you might not want to miss this place. Away from city’s noisy environment, you can enjoy your meal with heartwarming restaurant nuance.
Stay tuned for my next trip, give comments if you have opinions or ideas, give like if you like it and..

CHEERS!!



I also do some artworks (in self-practice as well, actually), if you’d like to visit, you are very welcomed to my Artstation and Patreon profile.

Patreon

Artstation

and also selling some original merchandise at Redbubble
*Sorry, get to promote everything, but, yeah, my effort on living my dream may be starting from the very bottom*

Thank you. :D*

Advertisements


Leave a comment

It’s Rude, It’s Offensive, yet Delicious : Soto DJANCUK

Saya nggak akan tau ada tempat macam ini kalau nggak diajak bapak saya.. hahaha

Jadi, di suatu sudut Kota Jogja, ada sebuah tempat makan unik nan eksentrik yang menyuguhkan satu menu makanan asli Indonesia sebagai spesialisasinya. Tempatnya mudah sekali untuk ditemukan (karena nggak hilang hahahahaha [bad joke is bad]) karena nggak sampai masuk-masuk gang yang mblusuk. Anda bisa datang dari arah PGRI atau PUKJ. Bila Anda datang dari Arah PUKJ (Jl. Martadinata belok ke arah selatan di lampu merah pertigaan), lurus saja terus ke selatan dan Anda akan ketemu pertigaan dengan lampu merah. Kalau ke kiri Anda akan ke arah PGRI, tapi untuk ke rumah makan ini Anda belok ke kanan. Maju sekitar 500an meter dan Anda akan langsung menemukan tempat ini di sisi kiri jalan. Biasanya akan ada mini bus seperti ini (gambar di bawah) yang diparkir di depan rumah makannya.

20150718_115436

20150718_115313

Jadi, kata bapak saya, itu adalah food truck (sesuai tulisannya) yang dipakai untuk berkeliling memasarkan dagangannya. Pembeli bisa makan di dalam karena dalamnya sudah didesain sedemikian rupa sehingga mirip mini bar lengkap dengan meja, kursi, peralatan dapur, penerangan dan lain-lain. Dengan kata lain bus ini adalah rumah makan yang mobile.

Saking eksentriknya, rumah makan ini diberi nama Soto Djancuk oleh pemiliknya. Kenapa? Saya juga nggak tau menau karena belum pernah bertemu pemiliknya langsung dan kabarnya hampir nggak pernah ada di sana. Barangkali ia dari Jawa Timur :D. Nah, kata ‘djancuk’ ini sebenarnya umpatan yang biasa dipakai oleh orang Jawa TImur-an dan setau saya ini sangat kasar.

OK lah, nggak perlu lagi jauh-jauh membahas kata ‘djancuk’ tadi, langsung saja ke rumah makannya..

Tampak dari luar pun Anda pasti akan langsung tau kalau tempat ini ‘tidak biasa’. Jangan bayangkan rumah makan soto yang mewah, dengan tata letak yang rapi. Alih-alih, persepsi mereka tentang rumah makan cukup unik. Langsung lihat saja di bawah ini

20150718_112657

20150718_112725

20150718_112628

20150718_112635

20150718_112644

20150718_112813

*maafkan kualitas HP saya

!!!!

Itu sebagian pemandangan yang akan Anda lihat di rumah makan Soto Djancuk. Rumah makan ini memiliki nuansa yang sederhana nan unik bin eksentrik. Sekilas akan tampak seperti rumah lapuk di pedesaan dengan pintu kayu yang sudah entah berapa lama usianya, dinding bata yang nggak ditutup dengan semen, hiasan-hiasan dinding yang unik dan artistik, serta macam-macam lagi. Bahkan roda pun aka jadi meja makan Anda di sana hahaha. Kursi-kursi kayu dan bambu (kadang disebut lincak) yang akan menjadi tempat duduk Anda di sana. Entah model apa yang digunakan pemilik rumah makan itu, tapi gaya itu memberi kesan yang extraordinary. Tempatnya memang terkesan kotor dan kumuh tapi percayalah, itu cuma tampak luar saja, sebenarnya tempatnya bersih kok. BTW, yang botol kuning itu botol kecap dan bukan kendi arak/tuak/miras/alkohol hahahaha

Kemudian.. bintang utama di sini (maksudnya makanannya) adalah soto, ya seusuai namanya, Soto Djancuk. Sebelum saya ngoceh lebih lanjut, langsung lihat penampakannya saja..

20150718_113332

20150718_113321

Itu dia. Soto Djancuk hahahahahaha, entah kenapa saya suka menyebut menu makanan ini, tapi percayalah saya orang baik yang tak suka mengumpat hahahaha

Harganya nggak mahal, 10ribu rupiah saja untuk satu porsinya dan dijamin untuk yang porsi makannya rata-rata (kaya saya) pasti kenyang. Anda akan disuguhi 1 mangkuk soto di atas piring. Kelihatannya memang mangkuknya kecil, tapi kalau dituang ke piring, pasti sepiring penuh.(benar-benar penuh hampir di ambang batas piring hahaha) Sesuai penyelidikan saya, ada 2 tujuannya kenapa Anda dikasih piring juga. Satu, biar kalau tumpah-tumpah, nggak mengotori meja, dan dua, Anda bisa menuang semangkuk soto itu ke piring agar panasnya cepat hilang (seperti pelajaran jaman SD, semakin luas permukaan….. ah sudahalah, lupakan). Berlanjut ke komposisi sotonya, soto ini soto sapi dan saya bisa bilang seporsi sotonya disuguhkan dengan potongan daging sapi yang tidak sedikit. SIsanya hampir sama seperti komposisi soto pada umumnya, nasi, thokolan atau kecambah, irisan tomat dan irisan telur rebus. Nah yang spesial dan saya suka dari soto ini adalah rasa kuahnya. Kuahnya gelap sekali warnanya, tapi nggak kental. Pekat karena rempah saja, Karena sebagian besar soto yang pernah saya makan kuahnya relatif bening dan kadang kurang kaya akan rasa, tapi soto ini benar-benar menyuguhkan rasa lain. Campuran antara gurih dan sedikit asin serta asam (mungkin cuka) akan memberi sensasi tersendiri di dalam mulut.

Dan lagi, jangan khawatir kalau Anda makan di Soto Djancuk ini karena ada beberapa pilihan lauk sampingan yang bisa disantap bersama menu utamanya. Beberapa lauk sampingan antara lain ada gorengan (tempe, bakwan, tahu), sate (telur puyuh, hati, keong). Nah kesukaan saya yang keong tuh, rasanya manis dan tekturnya kenyal tapi agak pedas dan saya nggak suka pedas sama sekali, tapi untuk sate keong ini, santap langsung! Hahahaha.

Meski tempatnya tampak sangat sederhana tapi kualitas kulinernya juga nggak kalah kok, kalau penasaran bisa dicoba langsung saja ke TKP. 😀

Stay tuned for the next adventure(S).. Cheers!

Random Fun Tips (RFT) : Nyalakan lampu motor/mobil saat malam hari.