My Journey Through Life..

~Some people believe we only live once, so have fun while doing it.~


Leave a comment

Local Malaysian Cuisine : Kedai Malaysia

Hello, I’m back with another culinary experience after a long time hiatus in culinary review due to financial problem (a.k.a money shortage).

Long story short, my friends took me to a Malaysian style restaurant one night. Actually, I’ve been here before, once, but it was before I started to blog. This place is a simply-styled restaurant. It is quite spacious actually, but the arrangement is a little bit different. Right after you come in, there will be only 2 or 3 sets of table and chairs. As you move to the rear area, going down some steps, you’ll soon find much bigger area with some tables (but no chairs! you will sit on the floor). The place is located in Jl. Selokan Mataram (actually, I don’t know the exact address, but the restaurant is known as Kedai Malaysia)

People say that the owner (as well as the head chef, probably) has been living in Malaysia for some time, so the food he cook is deeply influenced with the authentic Malaysian style and taste. That’s awesome! Having authentic taste of a far place just right in your city is always a great choice to consider as food lovers.

We only ordered 2 kinds of food. I ordered Chicken Butter Fried Rice and my friends ordered Chicken Curry. I will start to talk about the curry first. Here’s the snap picture of it :

kari-ayam

Chicken Curry

Actually, for anyone who loves spicy (hot) food, this isn’t that spicy, but just full of spices. For me, since I have nearly zero tolerance against spicy food, this is pretty spicy for me, but I love it. Since it’s my friend’s dish, I only took a sip of the curry. It’s thick and literally full of spices. As soon as it entered my mouth, I felt a little bit of stings in my tongue but a lot stronger in my throat! The spices didn’t attack the tongue, but the throat instead. I dare to say, if I’m into spicy food, I’ll surely love the Chicken Curry. About the chicken, the meat is chopped into pieces and my friend said it’s quite tender.

Now, for mine, the Chicken Butter Fried Rice :nasgor-mentega-ayam

 Butter Chicken Fried Rice

Now, this is a magnificent recipe and execution. The fried rice is cooked without soy sauce (like how normally fried rice(s) are cooked with Indonesian style). However, the chef coated the fried rice with butter, so the taste was amazing. Buttery, but not overly oily. So, the overall taste is savory and a little bit salty. The chicken meat is right in the between of tender and chewy. It’s not exactly ‘dissolved’ in your mouth, but not very ‘rubbery’ as well. You will find chopped meatball and fish cake as well. The side dish (upper right corner of my plate) is called ‘kerupuk’. It’s a cracker that is commonly eaten with any dishes in Indonesia (maybe some other countries’ dishes as well). The platting was supposed to be neat and tidy. The rice is shaped like a giant dome (oh right, the portion is quite big for average eater like me) and you can get it with Rp 14k. It’s messy because I forgot to take a picture before I started to munch. 😀

So, it’s cool to be back talking about food again. I hope I can do it a lot often in the future. Stay tuned for the next stories of my life, give ‘like’ if you enjoy it, give comments if you have any opinion or suggestion for me.

CHEERS!!



I also do some artworks (in self-practice as well, actually), if you’d like to visit, here’s the link to my Artstation and Patreon profile.

Patreon

Artstation

and also selling some original merchandise at Redbubble
*Sorry, get to promote everything, but, yeah, my effort on living my dream may be starting from the very bottom*

Thank you. :D*

Advertisements


Leave a comment

It’s Rude, It’s Offensive, yet Delicious : Soto DJANCUK

Saya nggak akan tau ada tempat macam ini kalau nggak diajak bapak saya.. hahaha

Jadi, di suatu sudut Kota Jogja, ada sebuah tempat makan unik nan eksentrik yang menyuguhkan satu menu makanan asli Indonesia sebagai spesialisasinya. Tempatnya mudah sekali untuk ditemukan (karena nggak hilang hahahahaha [bad joke is bad]) karena nggak sampai masuk-masuk gang yang mblusuk. Anda bisa datang dari arah PGRI atau PUKJ. Bila Anda datang dari Arah PUKJ (Jl. Martadinata belok ke arah selatan di lampu merah pertigaan), lurus saja terus ke selatan dan Anda akan ketemu pertigaan dengan lampu merah. Kalau ke kiri Anda akan ke arah PGRI, tapi untuk ke rumah makan ini Anda belok ke kanan. Maju sekitar 500an meter dan Anda akan langsung menemukan tempat ini di sisi kiri jalan. Biasanya akan ada mini bus seperti ini (gambar di bawah) yang diparkir di depan rumah makannya.

20150718_115436

20150718_115313

Jadi, kata bapak saya, itu adalah food truck (sesuai tulisannya) yang dipakai untuk berkeliling memasarkan dagangannya. Pembeli bisa makan di dalam karena dalamnya sudah didesain sedemikian rupa sehingga mirip mini bar lengkap dengan meja, kursi, peralatan dapur, penerangan dan lain-lain. Dengan kata lain bus ini adalah rumah makan yang mobile.

Saking eksentriknya, rumah makan ini diberi nama Soto Djancuk oleh pemiliknya. Kenapa? Saya juga nggak tau menau karena belum pernah bertemu pemiliknya langsung dan kabarnya hampir nggak pernah ada di sana. Barangkali ia dari Jawa Timur :D. Nah, kata ‘djancuk’ ini sebenarnya umpatan yang biasa dipakai oleh orang Jawa TImur-an dan setau saya ini sangat kasar.

OK lah, nggak perlu lagi jauh-jauh membahas kata ‘djancuk’ tadi, langsung saja ke rumah makannya..

Tampak dari luar pun Anda pasti akan langsung tau kalau tempat ini ‘tidak biasa’. Jangan bayangkan rumah makan soto yang mewah, dengan tata letak yang rapi. Alih-alih, persepsi mereka tentang rumah makan cukup unik. Langsung lihat saja di bawah ini

20150718_112657

20150718_112725

20150718_112628

20150718_112635

20150718_112644

20150718_112813

*maafkan kualitas HP saya

!!!!

Itu sebagian pemandangan yang akan Anda lihat di rumah makan Soto Djancuk. Rumah makan ini memiliki nuansa yang sederhana nan unik bin eksentrik. Sekilas akan tampak seperti rumah lapuk di pedesaan dengan pintu kayu yang sudah entah berapa lama usianya, dinding bata yang nggak ditutup dengan semen, hiasan-hiasan dinding yang unik dan artistik, serta macam-macam lagi. Bahkan roda pun aka jadi meja makan Anda di sana hahaha. Kursi-kursi kayu dan bambu (kadang disebut lincak) yang akan menjadi tempat duduk Anda di sana. Entah model apa yang digunakan pemilik rumah makan itu, tapi gaya itu memberi kesan yang extraordinary. Tempatnya memang terkesan kotor dan kumuh tapi percayalah, itu cuma tampak luar saja, sebenarnya tempatnya bersih kok. BTW, yang botol kuning itu botol kecap dan bukan kendi arak/tuak/miras/alkohol hahahaha

Kemudian.. bintang utama di sini (maksudnya makanannya) adalah soto, ya seusuai namanya, Soto Djancuk. Sebelum saya ngoceh lebih lanjut, langsung lihat penampakannya saja..

20150718_113332

20150718_113321

Itu dia. Soto Djancuk hahahahahaha, entah kenapa saya suka menyebut menu makanan ini, tapi percayalah saya orang baik yang tak suka mengumpat hahahaha

Harganya nggak mahal, 10ribu rupiah saja untuk satu porsinya dan dijamin untuk yang porsi makannya rata-rata (kaya saya) pasti kenyang. Anda akan disuguhi 1 mangkuk soto di atas piring. Kelihatannya memang mangkuknya kecil, tapi kalau dituang ke piring, pasti sepiring penuh.(benar-benar penuh hampir di ambang batas piring hahaha) Sesuai penyelidikan saya, ada 2 tujuannya kenapa Anda dikasih piring juga. Satu, biar kalau tumpah-tumpah, nggak mengotori meja, dan dua, Anda bisa menuang semangkuk soto itu ke piring agar panasnya cepat hilang (seperti pelajaran jaman SD, semakin luas permukaan….. ah sudahalah, lupakan). Berlanjut ke komposisi sotonya, soto ini soto sapi dan saya bisa bilang seporsi sotonya disuguhkan dengan potongan daging sapi yang tidak sedikit. SIsanya hampir sama seperti komposisi soto pada umumnya, nasi, thokolan atau kecambah, irisan tomat dan irisan telur rebus. Nah yang spesial dan saya suka dari soto ini adalah rasa kuahnya. Kuahnya gelap sekali warnanya, tapi nggak kental. Pekat karena rempah saja, Karena sebagian besar soto yang pernah saya makan kuahnya relatif bening dan kadang kurang kaya akan rasa, tapi soto ini benar-benar menyuguhkan rasa lain. Campuran antara gurih dan sedikit asin serta asam (mungkin cuka) akan memberi sensasi tersendiri di dalam mulut.

Dan lagi, jangan khawatir kalau Anda makan di Soto Djancuk ini karena ada beberapa pilihan lauk sampingan yang bisa disantap bersama menu utamanya. Beberapa lauk sampingan antara lain ada gorengan (tempe, bakwan, tahu), sate (telur puyuh, hati, keong). Nah kesukaan saya yang keong tuh, rasanya manis dan tekturnya kenyal tapi agak pedas dan saya nggak suka pedas sama sekali, tapi untuk sate keong ini, santap langsung! Hahahaha.

Meski tempatnya tampak sangat sederhana tapi kualitas kulinernya juga nggak kalah kok, kalau penasaran bisa dicoba langsung saja ke TKP. 😀

Stay tuned for the next adventure(S).. Cheers!

Random Fun Tips (RFT) : Nyalakan lampu motor/mobil saat malam hari.