My Journey Through Life..

~Some people believe we only live once, so have fun while doing it.~


Leave a comment

My First Hotplate Rice : Plate-O

Haha, finally after some moments of saving money, I managed to treat myself with one pretty intermediate (in price) dish. So, my friends told me about this hotplate dish in Jl. Prof. Yohanes Jogja, I don’t know the exact address number since it’s quite hidden. Near the Galeria 4-junction (exactly eastern side across that shopping mall) there is a giant parking lot, and there is where this place is located. A little bit hidden and if you don’t have any information beforehand, you’re gonna take some time to find it.

Plate-O. It’s the name. I still wonder why it’s named that way. Maybe because the hotplate is in circular shape (I’m gonna give the picture later), but maybe not. This shop new in town, still in its 1st year in operation (during the time I ate there, I asked their waiter). Actually there’s another branch or stall in the northern part of Yogyakarta, but I don’t know the exact address.

This shop doesn’t serve a bunch of menu for the food and averagely priced in IDR 25k-40k based on your topping choices. They have 2 main choices of protein, noodle and rice, and 2 main choices of protein (meat), beef and fish. Back then, my friend ordered the fish one and it’s based on spicy red sauce, meanwhile I got this one

beef-extra-cheese

Beef Rice Hotplate (+ Extra Cheese!)

Look at that cheese! So far, I still love eating cheese so I ordered extra cheese. This is beef rice hotplate, consists of grilled beef strips, mozzarella cheese, egg, rice with scallion and sweet corn topping, and also sprinkled pepper. Oh boy, I love the entire dish. People say, the way to eat it ‘properly’ is by mixing each food altogether, but I did it in traditional way, piece by piece. The beef is quite tender and a little bit chewy but in nice dark brown color due to grilling. It’s not overly seasoned, just slightly salty and had additional saltiness of the special sauce Plate-O has. The cheese was perfect, tasted amazing and still stringy but the bottom part was slightly overburnt due to the hotplate’s heat.Like I said before, the sauce was pretty salty and garlic-y, but I like the style. Maybe adding more sauce would be even more amazing, chef! (because it dried out pretty fast 😦 ):thumbsup:

Unfortunately, by the time the dish arrived, the rice (bottom part) was overly burnt due to the heat, making it hard and crispy, which is the texture I don’t like for rice. Probably the cooks put the rice first before the protein or the heat was massive so it burnt my rice rapidly to rice crisps or I should’ve mixed everything together quickly so the heat should spread to the entire meal. Aside from the taste, the price is quite intermediate for me but it’s worth the meal. The ratio is good, the meat isn’t lacking in amount, the rice is also at great portion.

It was a great night with amazing dish (a little bit of downside but no problem, though, I still enjoy the entire food). I would like to taste something similar even more, probably with different base, style, and origin. That would be awesome! 🙂 Leave comments in the comment section if you have any ideas or opinions or recommendation on what I should try next, give like if you enjoy reading this experience, and stay tuned for my next foodie trips.

CHEERS!!



I also do some artworks (in self-practice as well, actually), if you’d like to visit, you are very welcomed to my Artstation and Patreon profile.

Patreon

Artstation

and also selling some original merchandise at Redbubble
*Sorry, get to promote everything, but, yeah, my effort on living my dream may be starting from the very bottom*

Thank you. :D*


Leave a comment

Roof? Steak? Food.. : Atap Grill

*WARNING : PORK DETECTED*

Ah… Akhirnya setelah +- 8 bulan nggak nulis, blog ini saya angkat lagi ke permukaan. Nggak punya duit, susah mau kulineran yang aneh2, makan sehari-hari aja masih mikir-mikir. Hahahahaha.

Anyway, masih di Jogja, ada salah 1 tempat high-end buat para pecinta daging panggang. Namanya Atap Grill dan letaknya di dekat samsat Kota Yogyakarta, tepatnya di Jl. Tentara Rakyat Mataram No.5, Bumijo, Jogja. Tempatnya agak kecil kalo diliat dari luar tapi banner-nya cukup besar dan jelas untuk dilihat dari jauh. Kabarnya yang di lokasi itu cabangnya, dan yang utama ada di area Sosrowijayan, tapi saya sendiri kurang paham tepatnya. Meski namanya Atap Grill, kita tetap makan di dalam rumah kok, jadi bukan open-sky dining atau malah makan di atas atap (roof). Tempat makannya sederhana dengan desain yang simple dan agak minimalist tetapi tetap enak dipandang. Tampungan pengunjung juga tidak terlalu banyak, mungkin sekitar 30an orang.

Harganya memang high-end dan saya memang modal nekat makan di sini meski uang pas-pasan (nekat ngirit makan sehari2 sampe batas minimum selama beberapa waktu hahaha). Kisaran harga untuk makanan antara Rp 35ribu – Rp 110rb dan minumannya masih termasuk harga standar antara Rp 4ribu – Rp 10rb-an. Bahan proteinnya ada 3 macam : daging ayam, daging sapi, dan daging babi. Waktu itu (karena saya juga belum tentu makan di sana 2 tahun sekali) saya pilih menu yang cukup menantang (harganya) : Beef Steak + Pork Belly dengan harga Rp 97ribu. Bisa sih pesan satu macam, seperti Beef BBQ, Pork Belly, Crunchy Pork, atau Chicken Steak tapi kayanya kalo 2 macam kok mantap, jadinya ya…. sudah. Hahahaha.

Untuk sausnya, ada 5 macam kalau tak salah ingat, tapi saya hanya ingat beberapa seperti Chili CheeseCajun Cheese (yang saya pesan), BBQ Sauce (kalau nggak salah ada Blackpepper Sauce juga tapi samar-samar ingatnya). Cajun Cheese yang saya pesan ini berwarna coklat muda lebih dominan ke gurih, sedikit asin, dan ada rasa rempah-rempahan yang sangat tipis. Cocok di lidah saya tapi satu hal disayangkan..

20160813_192322.jpg

20160813_192305.jpg

… porsi sausnya terlalu kecil. 😦

Dua tumpukan itu daging semua (pork belly sih sebagian ada lemaknya), dengan bobot @+- 100 gram. Beefnya (yang tumpukan bawah) nggak dimasak hingga matang sempurna tapi lebih ke medium, meski saya ga minta apa-apa dan manut saja sama defaultnya. Lumayan chewy tapi rasa bakarannya enak. Nah Pork Belly nya ini yang saya tunggu-tunggu dan memang nggak buat kecewa hahahaha. Dagingnya tebal dan empuk, lebih empuk dari beefnya, dan sudah berlumur bumbu manis seperti campuran bbq dan kecap. Nggak terlalu manis tapi pas untuk paduan rasa dengan dagingnya sendiri.

Hal kedua yang agak disayangkan adalah food plating-nya. Entah kenapa sayurannya (meski enak, nggak mentah tapi nggak overcooked juga) dibiarkan berserakan seperti itu, tapi mungkin itu gaya dan ciri khasnya sendiri, nggak tahu juga. Kesannya jadi setengah-setengah plating nya, di satu sisi rapi, satu sisi berantakan. Di luar dari teknik penataannya, rasanya memang mantab jaya kok.

20160813_194527.jpg

And that’s.. my last bite! (gotta save a memory)

Inilah sepenggal kisah saya saat mencicip makanan di sebuah steak house di Jogja. Meski cukup menguras dompet, saya bakal balik lagi entah suatu saat kapan saya ada rejeki lebih dan mencicip menu-menu lain di sini karena saya juga termasuk karnivora lumayan akut :D.

Stay tuned for next foodie experiences and as always..

CHEERS!


Leave a comment

It’s Rude, It’s Offensive, yet Delicious : Soto DJANCUK

Saya nggak akan tau ada tempat macam ini kalau nggak diajak bapak saya.. hahaha

Jadi, di suatu sudut Kota Jogja, ada sebuah tempat makan unik nan eksentrik yang menyuguhkan satu menu makanan asli Indonesia sebagai spesialisasinya. Tempatnya mudah sekali untuk ditemukan (karena nggak hilang hahahahaha [bad joke is bad]) karena nggak sampai masuk-masuk gang yang mblusuk. Anda bisa datang dari arah PGRI atau PUKJ. Bila Anda datang dari Arah PUKJ (Jl. Martadinata belok ke arah selatan di lampu merah pertigaan), lurus saja terus ke selatan dan Anda akan ketemu pertigaan dengan lampu merah. Kalau ke kiri Anda akan ke arah PGRI, tapi untuk ke rumah makan ini Anda belok ke kanan. Maju sekitar 500an meter dan Anda akan langsung menemukan tempat ini di sisi kiri jalan. Biasanya akan ada mini bus seperti ini (gambar di bawah) yang diparkir di depan rumah makannya.

20150718_115436

20150718_115313

Jadi, kata bapak saya, itu adalah food truck (sesuai tulisannya) yang dipakai untuk berkeliling memasarkan dagangannya. Pembeli bisa makan di dalam karena dalamnya sudah didesain sedemikian rupa sehingga mirip mini bar lengkap dengan meja, kursi, peralatan dapur, penerangan dan lain-lain. Dengan kata lain bus ini adalah rumah makan yang mobile.

Saking eksentriknya, rumah makan ini diberi nama Soto Djancuk oleh pemiliknya. Kenapa? Saya juga nggak tau menau karena belum pernah bertemu pemiliknya langsung dan kabarnya hampir nggak pernah ada di sana. Barangkali ia dari Jawa Timur :D. Nah, kata ‘djancuk’ ini sebenarnya umpatan yang biasa dipakai oleh orang Jawa TImur-an dan setau saya ini sangat kasar.

OK lah, nggak perlu lagi jauh-jauh membahas kata ‘djancuk’ tadi, langsung saja ke rumah makannya..

Tampak dari luar pun Anda pasti akan langsung tau kalau tempat ini ‘tidak biasa’. Jangan bayangkan rumah makan soto yang mewah, dengan tata letak yang rapi. Alih-alih, persepsi mereka tentang rumah makan cukup unik. Langsung lihat saja di bawah ini

20150718_112657

20150718_112725

20150718_112628

20150718_112635

20150718_112644

20150718_112813

*maafkan kualitas HP saya

!!!!

Itu sebagian pemandangan yang akan Anda lihat di rumah makan Soto Djancuk. Rumah makan ini memiliki nuansa yang sederhana nan unik bin eksentrik. Sekilas akan tampak seperti rumah lapuk di pedesaan dengan pintu kayu yang sudah entah berapa lama usianya, dinding bata yang nggak ditutup dengan semen, hiasan-hiasan dinding yang unik dan artistik, serta macam-macam lagi. Bahkan roda pun aka jadi meja makan Anda di sana hahaha. Kursi-kursi kayu dan bambu (kadang disebut lincak) yang akan menjadi tempat duduk Anda di sana. Entah model apa yang digunakan pemilik rumah makan itu, tapi gaya itu memberi kesan yang extraordinary. Tempatnya memang terkesan kotor dan kumuh tapi percayalah, itu cuma tampak luar saja, sebenarnya tempatnya bersih kok. BTW, yang botol kuning itu botol kecap dan bukan kendi arak/tuak/miras/alkohol hahahaha

Kemudian.. bintang utama di sini (maksudnya makanannya) adalah soto, ya seusuai namanya, Soto Djancuk. Sebelum saya ngoceh lebih lanjut, langsung lihat penampakannya saja..

20150718_113332

20150718_113321

Itu dia. Soto Djancuk hahahahahaha, entah kenapa saya suka menyebut menu makanan ini, tapi percayalah saya orang baik yang tak suka mengumpat hahahaha

Harganya nggak mahal, 10ribu rupiah saja untuk satu porsinya dan dijamin untuk yang porsi makannya rata-rata (kaya saya) pasti kenyang. Anda akan disuguhi 1 mangkuk soto di atas piring. Kelihatannya memang mangkuknya kecil, tapi kalau dituang ke piring, pasti sepiring penuh.(benar-benar penuh hampir di ambang batas piring hahaha) Sesuai penyelidikan saya, ada 2 tujuannya kenapa Anda dikasih piring juga. Satu, biar kalau tumpah-tumpah, nggak mengotori meja, dan dua, Anda bisa menuang semangkuk soto itu ke piring agar panasnya cepat hilang (seperti pelajaran jaman SD, semakin luas permukaan….. ah sudahalah, lupakan). Berlanjut ke komposisi sotonya, soto ini soto sapi dan saya bisa bilang seporsi sotonya disuguhkan dengan potongan daging sapi yang tidak sedikit. SIsanya hampir sama seperti komposisi soto pada umumnya, nasi, thokolan atau kecambah, irisan tomat dan irisan telur rebus. Nah yang spesial dan saya suka dari soto ini adalah rasa kuahnya. Kuahnya gelap sekali warnanya, tapi nggak kental. Pekat karena rempah saja, Karena sebagian besar soto yang pernah saya makan kuahnya relatif bening dan kadang kurang kaya akan rasa, tapi soto ini benar-benar menyuguhkan rasa lain. Campuran antara gurih dan sedikit asin serta asam (mungkin cuka) akan memberi sensasi tersendiri di dalam mulut.

Dan lagi, jangan khawatir kalau Anda makan di Soto Djancuk ini karena ada beberapa pilihan lauk sampingan yang bisa disantap bersama menu utamanya. Beberapa lauk sampingan antara lain ada gorengan (tempe, bakwan, tahu), sate (telur puyuh, hati, keong). Nah kesukaan saya yang keong tuh, rasanya manis dan tekturnya kenyal tapi agak pedas dan saya nggak suka pedas sama sekali, tapi untuk sate keong ini, santap langsung! Hahahaha.

Meski tempatnya tampak sangat sederhana tapi kualitas kulinernya juga nggak kalah kok, kalau penasaran bisa dicoba langsung saja ke TKP. 😀

Stay tuned for the next adventure(S).. Cheers!

Random Fun Tips (RFT) : Nyalakan lampu motor/mobil saat malam hari.